Pembelajaran berbasis proyek atau Project-Based Learning (PjBL) semakin popular dalam dunia pendidikan tinggi karena dinilai efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Metode ini menghadirkan proses belajar yang langsung terhubung dengan masalah nyata, sehingga mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengaplikasikan pengetahuan dalam kondisi praktis.
Berdasarkan laporan Journal of Educational Development 2024, penerapan pembelajaran berbasis proyek dapat meningkatkan kemampuan analisis mahasiswa hingga 23 persen dibandingkan metode ceramah tradisional. Peningkatan ini terjadi karena mahasiswa terlibat langsung dalam proses penyelesaian tugas berbasis penelitian dan pemecahan masalah.
Metode ini mengajak mahasiswa menyusun proyek berdasarkan kasus nyata. Tahapan proses terdiri dari:
Dengan mengikuti tahapan tersebut, mahasiswa dituntut berpikir sistematis, kolaboratif, dan kritis. Hal ini membuat model pembelajaran ini sangat efektif untuk pendidikan abad ke-21.
Menurut International Journal of Innovative Research in Education, motivasi belajar mahasiswa meningkat hingga 31 persen saat menggunakan metode berbasis proyek. Mereka merasa lebih mandiri dan memiliki kendali atas proses pembelajaran.
Selain itu, pendekatan ini mendukung Higher Order Thinking Skills (HOTS), khususnya pada level:
Dengan demikian, pembelajaran berbasis proyek tidak hanya meningkatkan kemampuan berpikir kritis, tetapi juga kreativitas dalam menemukan solusi baru.
Beberapa universitas mulai menerapkan metode PjBL pada kurikulum berbasis industri. Salah satunya Ma’soem University, yang menggunakan pembelajaran berbasis proyek pada program studi Teknik Industri, Bisnis Digital, dan Sistem Informasi.
Mahasiswa belajar langsung melalui studi kasus dari perusahaan, praktik laboratorium, dan pemecahan masalah lapangan. Berdasarkan evaluasi kampus, 85 persen mahasiswa yang mengikuti model ini lebih siap magang dan memasuki dunia kerja.
Meski efektif, penerapan metode ini memiliki kendala, di antaranya:
Untuk mengatasi hal tersebut, perguruan tinggi perlu menyediakan sistem pendukung seperti mentoring proyek, keterlibatan mitra industri, dan platform pembelajaran digital.
Kemampuan berpikir kritis sangat dibutuhkan oleh perusahaan. Dunia industri kini mencari lulusan yang mampu menganalisis masalah, mengambil keputusan, dan menyusun strategi berbasis data.
Karena itu, model pembelajaran ini dianggap sesuai dengan kebutuhan industri 4.0 yang menuntut lulusan adaptif, inovatif, dan memiliki problem solving skill.
Agar implementasi metode ini optimal, beberapa strategi yang dapat diterapkan kampus meliputi:
Pembelajaran berbasis proyek terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Metode ini relevan untuk diterapkan di perguruan tinggi karena mampu mempersiapkan lulusan yang siap menghadapi tantangan industri modern. Dengan kurikulum berbasis proyek seperti yang diterapkan Ma’soem University, mahasiswa tidak hanya memahami teori tetapi juga mampu menerapkannya secara praktis dan profesional.
Belum ada komentar, jadilah yang pertama mengomentari artikel ini
Belum ada berita trending