Dalam sistem pendidikan modern, prestasi sering kali diukur melalui angka. Nilai rapor, peringkat kelas, dan skor ujian menjadi tolok ukur utama keberhasilan siswa. Sejak dini, anak-anak dibiasakan untuk mengejar angka tinggi sebagai simbol kecerdasan dan kesuksesan. Tanpa disadari, orientasi berlebihan pada prestasi akademik ini justru melahirkan tekanan yang tidak kecil bagi peserta didik.
Tekanan prestasi muncul ketika nilai dijadikan satu-satunya standar penilaian. Siswa yang memperoleh nilai tinggi dipuji dan dianggap berhasil, sementara mereka yang nilainya rendah sering kali dicap kurang mampu. Padahal, kemampuan setiap anak berbeda-beda. Tidak semua potensi dapat diukur melalui ujian tertulis atau angka di rapor.
Akibat tekanan ini, proses belajar berubah menjadi beban. Belajar tidak lagi dimaknai sebagai proses memahami dan bertumbuh, melainkan sebagai kewajiban untuk mendapatkan nilai baik. Banyak siswa belajar karena takut gagal, bukan karena rasa ingin tahu. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mematikan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan.
Tekanan prestasi juga berdampak pada kesehatan mental siswa. Rasa cemas, takut mengecewakan orang tua, hingga kehilangan kepercayaan diri menjadi masalah yang semakin sering muncul. Ironisnya, hal ini terjadi di ruang yang seharusnya menjadi tempat aman untuk tumbuh dan berkembang. Pendidikan yang seharusnya membebaskan justru terasa menekan.
Peran orang tua dan sekolah sangat menentukan dalam menyikapi prestasi. Ketika orang tua hanya fokus pada hasil akhir tanpa menghargai proses, anak akan merasa bahwa dirinya hanya bernilai ketika berprestasi. Begitu pula sekolah yang terlalu menekankan peringkat dapat menciptakan persaingan tidak sehat antar siswa.
Prestasi sejatinya tidak hanya soal angka. Kemampuan berpikir kritis, kreativitas, empati, dan ketekunan adalah bagian penting dari keberhasilan pendidikan. Sayangnya, aspek-aspek ini sering kali sulit diukur dengan sistem penilaian konvensional sehingga kurang mendapat perhatian.
Pendidikan perlu menggeser paradigma dari sekadar mengejar nilai menuju pengembangan potensi menyeluruh. Penilaian seharusnya digunakan sebagai alat refleksi, bukan sebagai alat tekanan. Ketika siswa diberi ruang untuk belajar tanpa takut gagal, mereka akan lebih berani mencoba dan berkembang.
Mengurangi tekanan prestasi bukan berarti menurunkan standar pendidikan. Sebaliknya, ini adalah upaya untuk mengembalikan makna belajar yang sesungguhnya. Pendidikan yang sehat adalah pendidikan yang menghargai proses, memahami perbedaan, dan menumbuhkan kepercayaan diri siswa.
Jika pendidikan mampu keluar dari jerat angka semata, maka sekolah akan kembali menjadi ruang pembelajaran yang manusiawi. Di sanalah siswa tidak hanya belajar menjadi pintar, tetapi juga belajar menjadi utuh sebagai manusia.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.
Belum ada komentar, jadilah yang pertama mengomentari artikel ini