Biaya pendidikan yang terus meningkat menjadi perhatian serius di Indonesia. Banyak keluarga harus mengeluarkan pengorbanan besar demi menyekolahkan anak-anak mereka. Namun, tingginya biaya pendidikan sering kali tidak sebanding dengan kualitas dan dampak yang dirasakan oleh siswa.
Pendidikan mahal kerap diasosiasikan dengan fasilitas yang baik dan mutu yang tinggi. Namun kenyataannya, fasilitas tidak selalu menjamin kualitas pembelajaran. Kualitas pendidikan lebih ditentukan oleh proses belajar, kompetensi guru, dan lingkungan yang mendukung perkembangan siswa.
Masalah lain yang muncul adalah ketimpangan akses. Tidak semua lapisan masyarakat mampu mengakses pendidikan berkualitas. Ketika pendidikan menjadi semakin mahal, peluang anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk berkembang menjadi semakin terbatas. Hal ini berpotensi memperlebar kesenjangan sosial.
Pendidikan sejatinya adalah hak dasar setiap warga negara. Ketika akses terhadap pendidikan berkualitas bergantung pada kemampuan ekonomi, tujuan pendidikan sebagai alat pemerataan sosial menjadi terancam. Pendidikan seharusnya menjadi jalan mobilitas sosial, bukan penguat ketimpangan.
Refleksi tentang mahalnya pendidikan perlu diarahkan pada perbaikan kualitas dan keadilan akses. Pendidikan harus dipandang sebagai investasi kemanusiaan, bukan sekadar komoditas. Ketika pendidikan dikelola dengan orientasi nilai dan kebermanfaatan, biaya yang dikeluarkan akan sebanding dengan dampak yang dihasilkan.
Pada akhirnya, pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang mampu mengubah kehidupan, bukan sekadar menghabiskan biaya. Inilah tantangan besar yang perlu dijawab bersama oleh semua pemangku kepentingan pendidikan.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.
Belum ada komentar, jadilah yang pertama mengomentari artikel ini