Di balik berbagai kebijakan, kurikulum, dan metode pembelajaran, pendidikan sejatinya memiliki tujuan yang sangat mendasar: memanusiakan manusia. Pendidikan bukan hanya tentang mencetak individu cerdas, tetapi tentang membentuk manusia yang utuh—berakal, berperasaan, dan bermoral.
Dalam perjalanan pendidikan modern, tujuan ini kerap terpinggirkan. Pendidikan sering terjebak pada angka, peringkat, dan capaian formal. Sekolah menjadi ruang kompetisi, bukan ruang pertumbuhan. Padahal, setiap anak datang dengan potensi dan cerita hidup yang berbeda-beda.
Memanusiakan manusia berarti mengakui keunikan setiap peserta didik. Pendidikan yang manusiawi tidak memaksakan keseragaman, tetapi memberi ruang bagi perbedaan. Anak tidak dipandang sebagai mesin prestasi, melainkan sebagai individu yang sedang bertumbuh dan belajar memahami dunia.
Proses memanusiakan manusia juga menuntut pendidikan yang berempati. Guru tidak hanya dituntut mengajar, tetapi juga memahami. Sekolah tidak hanya menegakkan aturan, tetapi juga menciptakan rasa aman. Pendidikan yang mengabaikan sisi kemanusiaan berisiko melahirkan generasi yang cerdas tetapi kering nilai.
Dalam konteks Indonesia yang beragam, pendidikan manusiawi menjadi semakin penting. Pendidikan harus mampu menjadi jembatan yang menyatukan perbedaan, bukan alat yang memperlebar jarak sosial. Nilai toleransi, keadilan, dan gotong royong perlu dihidupkan, bukan hanya diajarkan.
Pendidikan yang memanusiakan manusia juga mengajarkan makna hidup, bukan sekadar cara bertahan hidup. Siswa perlu diajak berpikir tentang tujuan, tanggung jawab, dan kontribusi bagi sesama. Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti pada kecakapan teknis, tetapi menyentuh kedalaman makna.
Refleksi akhir dari seluruh pembahasan pendidikan ini adalah kesadaran bahwa pendidikan adalah proses panjang dan kompleks. Tidak ada sistem yang sempurna, tetapi selalu ada ruang untuk memperbaiki arah. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang terus belajar dari dirinya sendiri.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak diukur dari seberapa banyak lulusan yang dihasilkan, tetapi dari seberapa manusiawi manusia yang dilahirkan. Ketika pendidikan mampu memuliakan manusia, maka pendidikan telah menjalankan peran tertingginya dalam kehidupan.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.
Belum ada komentar, jadilah yang pertama mengomentari artikel ini