Sekolah sering dipandang sebagai tempat untuk mencerdaskan generasi muda. Namun, dalam praktiknya, muncul pertanyaan penting: apakah sekolah benar-benar mencerdaskan, atau hanya berfungsi sebagai mesin kelulusan? Pertanyaan ini relevan ketika kita melihat bagaimana proses belajar sering kali berorientasi pada nilai, ujian, dan ijazah.
Di banyak sekolah, keberhasilan siswa masih diukur dari angka di rapor dan hasil ujian akhir. Sistem ini mendorong siswa untuk mengejar nilai setinggi mungkin, bahkan jika itu berarti belajar dengan cara menghafal tanpa memahami. Akibatnya, kecerdasan yang terbentuk menjadi sempit, terbatas pada kemampuan akademik semata.
Padahal, kecerdasan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengerjakan soal. Kecerdasan juga mencakup kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, berempati, dan memecahkan masalah kehidupan nyata. Jika sekolah hanya fokus meluluskan siswa sesuai standar administrasi, maka fungsi mencerdaskan menjadi kehilangan makna.
Fenomena “lulus tapi bingung” semakin sering ditemui. Banyak siswa yang berhasil menyelesaikan pendidikan formal, tetapi tidak siap menghadapi tantangan dunia kerja maupun kehidupan sosial. Hal ini menunjukkan adanya jarak antara apa yang diajarkan di sekolah dan kebutuhan nyata di masyarakat.
Sekolah seharusnya menjadi ruang pembelajaran yang membangun daya pikir dan karakter. Proses belajar mestinya mendorong rasa ingin tahu, keberanian bertanya, dan kemampuan memahami masalah dari berbagai sudut pandang. Tanpa itu, kelulusan hanya menjadi formalitas.
Mencerdaskan berarti membantu siswa memahami dirinya dan lingkungannya. Ketika sekolah mampu menjalankan peran ini, kelulusan akan menjadi hasil alami dari proses belajar yang bermakna, bukan sekadar target administratif.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.
Belum ada komentar, jadilah yang pertama mengomentari artikel ini