Perubahan dalam dunia pendidikan sering kali terlihat secara fisik dan administratif. Gedung sekolah semakin modern, kurikulum berganti, dan teknologi mulai masuk ke ruang kelas. Namun, di balik perubahan tersebut, banyak persoalan lama yang tetap bertahan. Tekanan akademik, pembelajaran satu arah, dan minimnya ruang dialog masih menjadi masalah utama.
Salah satu penyebab pendidikan sulit berubah adalah cara pandang yang terlalu administratif. Perubahan sering kali dilakukan demi memenuhi tuntutan kebijakan, bukan berdasarkan kebutuhan siswa. Akibatnya, perubahan hanya bersifat permukaan dan tidak menyentuh akar persoalan.
Pembelajaran di banyak sekolah masih berpusat pada guru. Siswa menjadi penerima pasif, bukan subjek aktif dalam proses belajar. Model ini kurang memberi ruang bagi kreativitas dan berpikir kritis. Padahal, tantangan kehidupan modern justru membutuhkan kemampuan berpikir mandiri dan adaptif.
Selain itu, budaya takut salah juga menghambat perubahan. Siswa enggan bertanya karena takut dianggap tidak mampu. Guru pun sering terikat pada target kurikulum sehingga sulit bereksperimen dengan metode baru. Pendidikan akhirnya berjalan dalam pola lama yang berulang.
Perubahan sejati dalam pendidikan membutuhkan keberanian untuk merefleksikan praktik yang sudah mapan. Pendidikan harus berani menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran dan melihat sekolah sebagai ruang tumbuh, bukan sekadar institusi formal.
Tanpa perubahan mendasar dalam cara berpikir dan budaya belajar, sekolah modern hanya akan mengulang masalah lama dengan kemasan baru. Pendidikan perlu bergerak dari sekadar perubahan struktural menuju perubahan yang lebih manusiawi.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.
Belum ada komentar, jadilah yang pertama mengomentari artikel ini