Bagi banyak mahasiswa di Indonesia, kuliah bukan hanya tentang berpindah jenjang pendidikan, tetapi juga tentang berpindah tempat hidup. Mahasiswa perantau meninggalkan kampung halaman, keluarga, dan zona nyaman demi menempuh pendidikan di kota atau daerah lain. Perjalanan ini bukan sekadar fisik, melainkan juga perjalanan emosional yang penuh tantangan dan pembelajaran.
Hari-hari awal menjadi mahasiswa perantau sering diwarnai rasa canggung dan kebingungan. Lingkungan baru, budaya yang berbeda, serta ritme hidup yang tidak sama dengan kampung halaman menuntut mahasiswa untuk cepat beradaptasi. Hal-hal sederhana seperti mencari kos, mengatur makan, dan memahami transportasi menjadi pengalaman pertama yang mengajarkan kemandirian.
Salah satu tantangan terbesar mahasiswa perantau adalah mengelola rasa rindu terhadap keluarga. Tidak adanya sosok orang tua yang biasanya hadir dalam keseharian membuat mahasiswa harus belajar menguatkan diri. Rasa rindu ini sering muncul di saat-saat tertentu, seperti ketika sakit, menghadapi masalah akademik, atau melihat teman-teman yang masih bisa pulang ke rumah setiap akhir pekan.
Di sisi lain, kehidupan sebagai perantau memaksa mahasiswa belajar mengatur keuangan secara mandiri. Uang kiriman harus dikelola untuk kebutuhan makan, kos, transportasi, dan keperluan kuliah. Kesalahan dalam mengatur keuangan menjadi pelajaran berharga tentang prioritas dan tanggung jawab. Dari sinilah mahasiswa mulai memahami nilai uang dan kerja keras orang tua.
Lingkungan sosial juga menjadi aspek penting dalam kehidupan mahasiswa perantau. Mereka perlu membangun pertemanan baru agar tidak merasa terasing. Organisasi kampus, komunitas daerah, atau lingkar pertemanan kos sering menjadi tempat mahasiswa menemukan rasa “rumah” di tanah rantau. Relasi sosial ini membantu mahasiswa bertahan secara mental dan emosional.
Namun, kehidupan merantau tidak selalu berjalan mulus. Tekanan akademik, masalah finansial, konflik dengan teman, hingga rasa kesepian bisa muncul bersamaan. Mahasiswa perantau yang tidak memiliki sistem dukungan yang baik berisiko mengalami stres berkepanjangan. Oleh karena itu, kemampuan mengenali batas diri dan mencari bantuan menjadi hal yang sangat penting.
Meski penuh tantangan, kehidupan sebagai mahasiswa perantau membawa proses pendewasaan yang signifikan. Mahasiswa belajar mengambil keputusan sendiri, bertanggung jawab atas pilihan hidup, dan menghadapi konsekuensi dengan lebih matang. Pengalaman hidup jauh dari keluarga membentuk karakter yang lebih kuat, mandiri, dan adaptif.
Pada akhirnya, kehidupan mahasiswa perantau adalah proses pembentukan diri. Rasa rindu, kesulitan, dan perjuangan yang dijalani menjadi bagian dari cerita hidup yang kelak membentuk cara pandang dan ketangguhan mental. Dari rantau, mahasiswa belajar bahwa tumbuh dewasa tidak selalu nyaman, tetapi selalu bermakna.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.
Belum ada komentar, jadilah yang pertama mengomentari artikel ini