Aktivisme sosial telah lama menjadi bagian dari identitas mahasiswa di Indonesia. Sejarah mencatat peran mahasiswa dalam berbagai perubahan sosial dan politik yang signifikan. Hingga kini, mahasiswa masih dipandang sebagai kelompok yang memiliki kesadaran kritis dan keberanian untuk menyuarakan kepentingan publik. Namun, bentuk dan tantangan aktivisme mahasiswa terus mengalami perubahan.
Di era modern, aktivisme mahasiswa tidak lagi terbatas pada aksi demonstrasi. Media sosial menjadi ruang baru untuk menyuarakan aspirasi, mengedukasi masyarakat, dan mengawal isu-isu publik. Mahasiswa dapat dengan cepat menyebarkan informasi, membangun opini, dan mengorganisir gerakan. Perkembangan ini memperluas jangkauan aktivisme, tetapi juga menghadirkan tantangan baru.
Salah satu tantangan utama aktivisme mahasiswa adalah konsistensi. Banyak mahasiswa yang aktif menyuarakan isu tertentu pada momen tertentu, tetapi tidak berkelanjutan. Aktivisme sering bersifat reaktif dan mengikuti tren. Ketika isu mulai meredup, keterlibatan pun ikut menurun. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang kedalaman kesadaran dan komitmen dalam beraktivisme.
Selain itu, mahasiswa juga dihadapkan pada dilema antara aktivisme dan tanggung jawab akademik. Keterlibatan dalam kegiatan sosial membutuhkan waktu, energi, dan fokus. Tanpa manajemen waktu yang baik, aktivisme dapat mengganggu proses perkuliahan. Sebaliknya, tekanan akademik sering membuat mahasiswa mengesampingkan keterlibatan sosial.
Tantangan lain adalah polarisasi dan konflik pandangan. Aktivisme sosial sering kali bersinggungan dengan isu sensitif yang memicu perbedaan tajam. Mahasiswa perlu memiliki kedewasaan dalam menyikapi perbedaan dan menghindari sikap intoleran. Aktivisme yang tidak disertai dengan pemahaman mendalam berisiko menjadi destruktif dan kehilangan tujuan awalnya.
Di sisi positif, aktivisme sosial memberikan banyak pembelajaran berharga bagi mahasiswa. Melalui keterlibatan langsung, mahasiswa belajar tentang kepemimpinan, advokasi, dan kerja kolektif. Aktivisme juga melatih kepekaan sosial dan empati terhadap realitas masyarakat yang sering tidak tersentuh di ruang kelas.
Peran kampus dalam mengarahkan aktivisme mahasiswa juga sangat penting. Kampus idealnya menyediakan ruang dialog dan kebebasan berekspresi yang bertanggung jawab. Pembinaan dan pendampingan dapat membantu mahasiswa menyalurkan aspirasi secara konstruktif dan berbasis pengetahuan.
Pada akhirnya, aktivisme mahasiswa adalah refleksi dari kesadaran sosial dan tanggung jawab moral. Aktivisme yang sehat bukan sekadar aksi simbolik, tetapi komitmen jangka panjang untuk memahami dan memperbaiki kondisi masyarakat. Dengan keseimbangan antara akademik dan kepedulian sosial, mahasiswa dapat menjalankan perannya sebagai agen perubahan secara lebih bermakna dan berkelanjutan.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.
Belum ada komentar, jadilah yang pertama mengomentari artikel ini