Di tengah padatnya aktivitas akademik, olahraga sering menjadi aspek yang terpinggirkan dalam kehidupan mahasiswa. Duduk berjam-jam di kelas, mengerjakan tugas di depan layar, dan begadang demi deadline membentuk gaya hidup sedentari yang berdampak pada kesehatan fisik dan mental mahasiswa Indonesia.
Banyak mahasiswa menyadari pentingnya olahraga, tetapi kesulitan menerapkannya secara konsisten. Alasan klasik seperti tidak punya waktu, lelah, atau malas sering muncul. Jadwal kuliah yang tidak menentu membuat olahraga terasa seperti aktivitas tambahan, bukan kebutuhan utama.
Fasilitas olahraga kampus sebenarnya menjadi potensi besar. Lapangan, pusat kebugaran, dan unit kegiatan olahraga tersedia di banyak perguruan tinggi. Namun, pemanfaatannya tidak selalu optimal. Sebagian mahasiswa merasa minder, tidak percaya diri, atau menganggap olahraga hanya untuk mereka yang sudah terbiasa sejak awal.
Mahasiswa yang aktif berolahraga sering merasakan dampak positif secara langsung. Tubuh terasa lebih bugar, stres berkurang, dan fokus belajar meningkat. Olahraga menjadi ruang pelepasan tekanan akademik sekaligus sarana sosial. Dari bermain futsal hingga jogging bersama, olahraga menciptakan interaksi yang lebih cair antar mahasiswa.
Di sisi lain, sebagian mahasiswa hanya berolahraga secara situasional. Mereka mulai rutin bergerak ketika merasa tubuh terlalu lelah atau berat badan meningkat. Pola ini menunjukkan bahwa olahraga masih dipandang sebagai solusi darurat, bukan bagian dari gaya hidup berkelanjutan.
Tekanan akademik dan budaya produktivitas turut memengaruhi pola ini. Mahasiswa sering merasa bersalah jika meluangkan waktu untuk olahraga, seolah waktu tersebut seharusnya digunakan untuk belajar atau bekerja. Padahal, kesehatan fisik berperan penting dalam menjaga performa akademik jangka panjang.
Media sosial juga memengaruhi persepsi mahasiswa terhadap olahraga. Konten tubuh ideal dan rutinitas olahraga ekstrem bisa memotivasi, tetapi juga menimbulkan tekanan. Sebagian mahasiswa merasa olahraga harus dilakukan secara intens agar “bernilai”, sehingga enggan memulai dari langkah kecil.
Mahasiswa perantau menghadapi tantangan tambahan. Lingkungan baru, keterbatasan ruang, dan keamanan sering menjadi pertimbangan. Namun, banyak yang akhirnya menemukan bentuk olahraga sederhana seperti jalan kaki, bersepeda, atau latihan ringan di kamar kos sebagai solusi realistis.
Peran kampus dalam mempromosikan olahraga sangat penting. Program olahraga inklusif, kegiatan rekreasional, dan edukasi kesehatan dapat mendorong mahasiswa bergerak tanpa tekanan kompetitif. Olahraga seharusnya diposisikan sebagai kebutuhan dasar, bukan prestasi semata.
Pada akhirnya, olahraga bagi mahasiswa bukan tentang membentuk tubuh ideal, tetapi menjaga keseimbangan hidup. Di tengah tuntutan akademik yang berat, tubuh yang sehat menjadi modal utama untuk bertahan dan berkembang. Mahasiswa yang mampu merawat tubuhnya akan lebih siap menghadapi tantangan perkuliahan dan kehidupan setelah lulus.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.
Belum ada komentar, jadilah yang pertama mengomentari artikel ini