Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan mahasiswa. Internet, media sosial, dan berbagai platform digital kini menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas belajar dan bersosialisasi. Di tengah kemudahan akses informasi ini, literasi digital menjadi keterampilan penting yang harus dimiliki mahasiswa agar mampu memanfaatkan teknologi secara cerdas dan bertanggung jawab.
Literasi digital tidak hanya berarti mampu menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga mencakup kemampuan memahami, menilai, dan mengelola informasi secara kritis. Mahasiswa dihadapkan pada banjir informasi setiap hari, baik dari media sosial, situs berita, maupun platform akademik. Tanpa kemampuan literasi digital yang baik, mahasiswa rentan terjebak pada informasi yang keliru atau menyesatkan.
Dalam konteks akademik, literasi digital sangat berpengaruh terhadap kualitas pembelajaran mahasiswa. Kemampuan mencari sumber ilmiah yang kredibel, memahami etika akademik, dan menghindari plagiarisme merupakan bagian penting dari literasi digital. Mahasiswa dituntut untuk tidak hanya cepat dalam mencari informasi, tetapi juga bijak dalam menggunakannya.
Media sosial menjadi salah satu ruang digital yang paling sering digunakan mahasiswa. Di satu sisi, media sosial dapat menjadi sarana berbagi informasi, membangun jejaring, dan mengekspresikan diri. Namun, di sisi lain, penggunaan yang tidak terkontrol dapat berdampak negatif, seperti kecanduan, gangguan konsentrasi belajar, hingga tekanan sosial. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memiliki kesadaran digital dalam mengatur waktu dan perilaku di ruang maya.
Literasi digital juga berkaitan dengan etika dan tanggung jawab. Mahasiswa sebagai kelompok terdidik memiliki peran penting dalam menjaga ruang digital yang sehat. Menyebarkan informasi yang benar, menghargai perbedaan pendapat, dan menghindari ujaran kebencian merupakan bentuk tanggung jawab moral di dunia digital. Sikap ini mencerminkan kedewasaan intelektual mahasiswa.
Tantangan lain dalam literasi digital adalah kemampuan menghadapi hoaks dan disinformasi. Mahasiswa perlu dibekali kemampuan berpikir kritis untuk memverifikasi informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Kebiasaan membaca secara mendalam dan memeriksa sumber menjadi keterampilan penting di era informasi yang serba cepat.
Peran kampus dalam meningkatkan literasi digital mahasiswa sangatlah penting. Melalui kurikulum, pelatihan, dan pembiasaan penggunaan teknologi secara etis, kampus dapat membentuk budaya literasi digital yang kuat. Dosen juga berperan dalam mengarahkan mahasiswa agar menggunakan teknologi sebagai alat pembelajaran, bukan sekadar hiburan.
Pada akhirnya, literasi digital bukan sekadar tuntutan zaman, melainkan kebutuhan mendasar bagi mahasiswa. Kemampuan mengelola informasi, bersikap etis, dan berpikir kritis di ruang digital akan sangat menentukan kualitas mahasiswa sebagai insan akademik dan anggota masyarakat.
Mahasiswa yang memiliki literasi digital yang baik akan lebih siap menghadapi tantangan akademik, dunia kerja, dan kehidupan sosial di era teknologi. Dengan sikap bijak dan bertanggung jawab, teknologi dapat menjadi sarana pemberdayaan, bukan jebakan yang melemahkan potensi diri.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.
Belum ada komentar, jadilah yang pertama mengomentari artikel ini