Menjadi mahasiswa perantau adalah pengalaman yang mendebarkan sekaligus menantang. Banyak mahasiswa di Indonesia yang memilih untuk melanjutkan kuliah di luar kota atau bahkan luar pulau, demi mengejar kualitas pendidikan yang lebih baik atau program studi yang tidak tersedia di daerah asal. Namun, keputusan untuk merantau tidak hanya berarti berpindah tempat tinggal, melainkan juga menghadapi perbedaan budaya, nilai, dan kebiasaan yang bisa menjadi tantangan tersendiri.
Perbedaan bahasa lokal, adat istiadat, makanan, dan cara berinteraksi menjadi tantangan utama bagi mahasiswa perantau. Misalnya, mahasiswa dari Jawa yang kuliah di Sumatera akan menghadapi dialek dan gaya komunikasi yang berbeda. Di beberapa daerah, masyarakat cenderung berbicara dengan nada tegas yang bisa disalahartikan sebagai marah oleh mahasiswa yang belum terbiasa. Sebaliknya, mahasiswa dari luar Jawa yang kuliah di Yogyakarta atau Solo harus menyesuaikan diri dengan budaya halus dan penuh unggah-ungguh.
Perbedaan makanan juga bisa memengaruhi kenyamanan mahasiswa perantau. Rasa, jenis makanan, dan waktu makan yang berbeda dapat menyebabkan mahasiswa merasa rindu kampung halaman. Tak jarang, mahasiswa mengidamkan makanan khas daerah asalnya karena tidak dapat ditemukan di kota tempat mereka kuliah.
Tantangan lain adalah perasaan kesepian dan keterasingan. Mahasiswa perantau jauh dari keluarga dan lingkungan yang familiar. Tidak ada orang tua yang bisa dimintai bantuan langsung, dan perasaan "sendiri" dalam menghadapi masalah bisa cukup membebani, terutama di awal masa perkuliahan. Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa perantau untuk membangun jaringan sosial di kampus, baik melalui teman sekelas, organisasi kemahasiswaan, maupun komunitas daerah.
Menjadi perantau juga berarti harus lebih mandiri. Mahasiswa harus bisa mengatur keuangan, waktu, hingga kesehatan diri sendiri. Ketika sakit, mereka harus mencari pengobatan sendiri. Ketika mengalami masalah akademik, mereka harus menghadapinya tanpa bimbingan langsung dari keluarga. Pengalaman ini, meskipun berat, justru menjadi ajang pembentukan karakter dan kedewasaan.
Adaptasi budaya juga memberikan peluang bagi mahasiswa untuk tumbuh secara sosial. Dengan membuka diri terhadap budaya baru, mahasiswa perantau dapat memperluas cara pandang, memahami keberagaman, dan membentuk sikap toleransi yang tinggi. Interaksi dengan teman-teman dari berbagai daerah membuat mahasiswa belajar bahwa perbedaan adalah hal yang biasa dan bisa menjadi kekuatan jika dikelola dengan baik.
Beberapa kampus menyediakan wadah khusus bagi mahasiswa perantau, seperti paguyuban daerah atau komunitas mahasiswa luar kota. Kehadiran komunitas ini sangat membantu dalam proses adaptasi, karena memberikan rasa kebersamaan dan dukungan emosional. Mahasiswa juga bisa berbagi informasi, seperti tempat makan murah, kosan nyaman, hingga tips menghadapi dosen tertentu.
Pada akhirnya, menjadi mahasiswa perantau adalah proses pendewasaan yang menyeluruh. Dari kesulitan yang dihadapi, mahasiswa belajar tentang hidup, tanggung jawab, dan kekuatan diri. Pengalaman ini menjadi bekal berharga yang akan membentuk karakter tangguh dan siap menghadapi dunia setelah kampus.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.
Belum ada komentar, jadilah yang pertama mengomentari artikel ini