Dunia perkuliahan sering dipandang sebagai fase menuju masa depan yang cerah. Namun di balik semangat belajar dan pencapaian akademik, banyak mahasiswa yang harus menghadapi tekanan mental yang tidak ringan. Tuntutan nilai tinggi, persaingan antar mahasiswa, ekspektasi keluarga, serta ketidakpastian masa depan menjadikan kesehatan mental sebagai isu penting dalam kehidupan mahasiswa modern.
Tekanan akademik muncul dari berbagai sumber. Sistem penilaian yang kompetitif sering membuat mahasiswa merasa harus selalu unggul agar tidak tertinggal. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) kerap dijadikan tolok ukur utama keberhasilan, seolah-olah nilai akademik adalah satu-satunya penentu masa depan. Kondisi ini membuat sebagian mahasiswa belajar bukan untuk memahami, tetapi untuk mengejar angka. Akibatnya, proses belajar kehilangan makna dan berubah menjadi beban psikologis.
Selain akademik, faktor sosial juga turut memengaruhi kesehatan mental mahasiswa. Media sosial, misalnya, memperlihatkan pencapaian orang lain secara terus-menerus. Mahasiswa dengan mudah membandingkan dirinya dengan teman yang terlihat lebih berprestasi, lebih aktif, atau lebih sukses. Perbandingan ini sering kali melahirkan rasa tidak percaya diri, cemas, bahkan merasa gagal, meskipun sebenarnya setiap individu memiliki jalur dan waktunya masing-masing.
Tekanan juga dirasakan oleh mahasiswa yang harus membagi waktu antara kuliah dan tanggung jawab lain, seperti bekerja paruh waktu atau membantu keluarga. Tidak semua mahasiswa berada dalam kondisi ekonomi yang sama. Bagi sebagian orang, kuliah bukan hanya soal belajar, tetapi juga perjuangan untuk bertahan hidup. Beban ganda ini sering kali membuat mahasiswa kelelahan secara fisik dan emosional, namun tidak semua memiliki ruang aman untuk bercerita.
Sayangnya, isu kesehatan mental masih kerap dianggap sepele. Banyak mahasiswa memilih memendam masalah karena takut dianggap lemah atau berlebihan. Padahal, stres berkepanjangan dapat berdampak serius, seperti gangguan tidur, penurunan konsentrasi, hingga burnout akademik. Dalam kondisi tertentu, tekanan mental bahkan dapat memicu depresi dan kecemasan berlebih yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan akademik yang sehat. Keberadaan layanan konseling, dosen pembimbing yang peduli, serta kebijakan akademik yang manusiawi dapat membantu mahasiswa menghadapi tekanan dengan lebih baik. Namun, mahasiswa juga perlu membangun kesadaran untuk menjaga kesehatan mentalnya sendiri. Mengenali batas kemampuan, berani meminta bantuan, dan tidak memaksakan diri adalah langkah awal yang penting.
Menjaga kesehatan mental bukan berarti menghindari tantangan. Justru, mahasiswa perlu belajar menghadapi tekanan dengan cara yang sehat. Mengatur waktu istirahat, menjaga pola tidur, membangun hubungan sosial yang positif, serta memiliki aktivitas di luar akademik dapat membantu menjaga keseimbangan hidup. Kampus bukan hanya tempat mencetak lulusan berprestasi, tetapi juga ruang tumbuh bagi individu yang sehat secara mental dan emosional.
Pada akhirnya, keberhasilan mahasiswa tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari kemampuan mereka bertahan, bangkit, dan berkembang di tengah tekanan. Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental adalah investasi jangka panjang yang akan memengaruhi kualitas hidup mahasiswa, baik selama kuliah maupun setelah memasuki dunia kerja.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.
Belum ada komentar, jadilah yang pertama mengomentari artikel ini