Pernah gak sih kamu ngerasa jantung langsung deg-degan cuma karena lihat status “online”? dari seseorang.
Padahal kamu gak lagi chat dia. Tapi pikiran langsung lari ke mana-mana. Lagi ngobrol sama siapa? Lagi perhatian ke siapa? Kenapa bukan aku? kenapa? kenapa?
Ini bukan lebay. Ini trauma.
Banyak korban perselingkuhan ngalamin hal yang sama. Hal kecil yang dulu biasa aja, sekarang berubah jadi pemicu overthinking. Status online yang dulu gak berarti apa-apa, sekarang terasa seperti ancaman besar.
Fakta yang jarang disadari, trauma karena diselingkuhi bisa bikin otak terus waspada. Kayak alarm yang gak pernah mati. Bahkan saat gak ada bukti apa-apa, pikiran tetap nyari kemungkinan terburuk apa lagi.
Dan di sinilah capeknya mulai terasa.
Kamu jadi sering buka tutup chat. Ngecek last seen. Nunggu dia bales. Tapi bukan karena kangen. Karena takut…
Takut kejadian yang sama terulang lagi.
Masalahnya, orang lain sering gak paham. Mereka cuma bilang, "Udah, jangan overthinking." Padahal yang kamu rasain bukan sekadar pikiran. Ini luka yang belum selesai.
Setiap dia online lama, kamu ngerasa gak cukup. Setiap dia gak bales cepat, kamu ngerasa diabaikan. Setiap notifikasi muncul, kamu berharap... tapi juga takut.
Ini capek secara mental.
Dan yang lebih berat, kamu mulai kehilangan diri sendiri. Fokus kamu bukan lagi ke hidupmu, tapi ke aktivitas dia. Kamu jadi hidup dalam bayang-bayang rasa curiga dan curiga lagi.
Kalau kamu lagi di posisi ini, satu hal yang perlu kamu tahu: ini bukan sepenuhnya salah kamu. Tapi kalau dibiarkan, ini bisa menghancurkan diri kamu pelan-pelan.
Healing itu bukan pura-pura kuat. Healing itu berani jujur kalau kamu masih sakit.
Pelan-pelan, kamu harus belajar bedain mana realita dan mana trauma. Gak semua "online" berarti selingkuh. Tapi luka lama bikin semuanya terasa sama.