Hubungan Mahasiswa Dan Dosen: Antara Formalitas Akademik Dan Ruang Pembelajaran Manusiawi


Faturahman
Faturahman
Hubungan Mahasiswa Dan Dosen: Antara Formalitas Akademik Dan Ruang Pembelajaran Manusiawi
Hubungan Mahasiswa Dan Dosen: Antara Formalitas Akademik Dan Ruang Pembelajaran Manusiawi

Hubungan antara mahasiswa dan dosen merupakan salah satu elemen penting dalam kehidupan kampus. Di atas kertas, relasi ini bersifat formal dan hierarkis, namun dalam praktiknya, hubungan tersebut berkembang menjadi lebih kompleks dan dinamis. Cara mahasiswa berinteraksi dengan dosen sangat memengaruhi pengalaman akademik mereka.

Di awal perkuliahan, banyak mahasiswa memandang dosen sebagai figur otoritas yang kaku dan sulit didekati. Gelar akademik, pengalaman panjang, serta posisi dosen di kelas menciptakan jarak psikologis. Tidak sedikit mahasiswa merasa sungkan bertanya atau berdiskusi, meskipun sebenarnya mengalami kesulitan memahami materi.

Seiring waktu, mahasiswa mulai memahami bahwa dosen memiliki karakter dan pendekatan yang beragam. Ada dosen yang tegas dan fokus pada target pembelajaran, ada pula yang komunikatif dan terbuka terhadap diskusi. Interaksi di kelas menjadi ruang awal bagi mahasiswa untuk belajar menyesuaikan diri dengan gaya mengajar yang berbeda.

Peran dosen tidak hanya sebatas pengajar, tetapi juga pembimbing akademik dan mentor. Dalam konteks bimbingan skripsi, hubungan mahasiswa dan dosen sering menjadi lebih intens. Proses ini mengajarkan mahasiswa tentang kesabaran, komunikasi yang efektif, serta pentingnya tanggung jawab terhadap pekerjaan ilmiah.

Namun, relasi ini tidak selalu berjalan mulus. Perbedaan ekspektasi, keterbatasan waktu dosen, atau miskomunikasi dapat menimbulkan frustrasi. Mahasiswa sering merasa tertekan ketika revisi berulang kali atau sulit mendapatkan waktu bimbingan. Di sisi lain, dosen juga menghadapi beban kerja yang tinggi.

Kurikulum yang menekankan pembelajaran aktif mendorong perubahan peran dosen. Dosen tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan fasilitator yang membimbing proses berpikir kritis mahasiswa. Hubungan yang lebih dialogis mulai berkembang, meskipun belum merata di semua kampus.

Keberanian mahasiswa untuk membangun komunikasi yang sehat menjadi kunci. Mengajukan pertanyaan dengan sopan, menghargai waktu dosen, dan bersikap terbuka terhadap kritik membantu menciptakan hubungan akademik yang produktif. Dari proses ini, mahasiswa belajar etika profesional yang akan berguna di dunia kerja.

Kampus juga berperan dalam menciptakan iklim relasi yang sehat. Kebijakan akademik yang jelas, sistem bimbingan yang transparan, dan pelatihan pedagogik bagi dosen dapat memperkecil jarak antara dosen dan mahasiswa. Lingkungan yang suportif mendorong proses belajar yang lebih manusiawi.

Pada akhirnya, hubungan mahasiswa dan dosen bukan sekadar relasi formal di ruang kelas. Ia adalah interaksi yang membentuk cara berpikir, sikap, dan karakter mahasiswa. Ketika relasi ini berjalan secara sehat, kampus menjadi ruang tumbuh yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan.


Tryout.id: Solusi Pasti Lulus Ujian, Tes Kerja, Dan Masuk Kuliah Banner Bersponsor

Suka

Tentang Penulis


Faturahman

Faturahman

Guest - Universitas Terbuka

Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.

Tulis Komentar


0 / 1000

Lagi Tranding


Rekomendasi Lainnya