Menjadi mahasiswa perantau adalah pengalaman yang penuh dinamika. Ribuan mahasiswa Indonesia setiap tahun meninggalkan kampung halaman untuk menempuh pendidikan di kota lain. Keputusan ini bukan sekadar soal akademik, tetapi juga tentang kesiapan mental menghadapi kehidupan baru yang serba mandiri.
Di awal masa perkuliahan, mahasiswa perantau dihadapkan pada fase adaptasi yang tidak mudah. Lingkungan sosial, budaya, bahasa, hingga kebiasaan sehari-hari sering kali berbeda dengan tempat asal. Hal-hal sederhana seperti selera makanan, cara berkomunikasi, atau ritme hidup kota bisa menjadi sumber kejutan budaya.
Kehidupan ngekos menjadi simbol kemandirian mahasiswa perantau. Dari mengatur kebersihan kamar, mencuci pakaian, hingga mengelola keuangan, semua dilakukan sendiri. Bagi sebagian mahasiswa, pengalaman ini terasa membebaskan, tetapi bagi yang lain justru menimbulkan rasa kesepian dan rindu rumah.
Dukungan sosial menjadi faktor penting dalam proses adaptasi. Teman kos, teman sekelas, dan komunitas mahasiswa daerah sering menjadi tempat berbagi cerita dan keluh kesah. Melalui interaksi ini, mahasiswa perantau menemukan rasa memiliki dan perlahan membangun rumah kedua di kota rantau.
Tekanan akademik sering terasa lebih berat bagi mahasiswa perantau. Jauh dari keluarga membuat mereka harus mengandalkan diri sendiri saat menghadapi kesulitan kuliah. Tidak jarang, rasa lelah dan stres bercampur dengan kerinduan terhadap rumah, terutama saat menghadapi masa ujian atau masalah pribadi.
Namun, di balik tantangan tersebut, kehidupan sebagai mahasiswa perantau membentuk ketangguhan. Mahasiswa belajar menyelesaikan masalah secara mandiri, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas pilihannya. Proses ini mempercepat kedewasaan dan membangun kepercayaan diri.
Kampus memiliki peran penting dalam mendukung mahasiswa perantau. Orientasi mahasiswa baru, layanan konseling, dan kegiatan kemahasiswaan dapat membantu proses adaptasi. Lingkungan kampus yang inklusif membuat mahasiswa perantau merasa diterima dan dihargai.
Seiring waktu, banyak mahasiswa perantau justru merasa berkembang pesat. Mereka tidak hanya tumbuh secara akademik, tetapi juga secara emosional dan sosial. Kota rantau menjadi ruang belajar yang luas, tempat mahasiswa mengenal dunia dengan cara yang lebih nyata.
Pada akhirnya, pengalaman merantau selama kuliah menjadi salah satu fase paling berkesan dalam hidup mahasiswa. Dari proses adaptasi inilah lahir pribadi yang lebih mandiri, tangguh, dan siap menghadapi tantangan kehidupan setelah lulus.
Guest - Universitas Terbuka
Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.
Belum ada komentar, jadilah yang pertama mengomentari artikel ini