Di Antara Motor, KRL, Dan Jalan Kaki: Mobilitas Mahasiswa Di Kota Pendidikan


Faturahman
Faturahman
Di Antara Motor, KRL, Dan Jalan Kaki: Mobilitas Mahasiswa Di Kota Pendidikan
Di Antara Motor, KRL, Dan Jalan Kaki: Mobilitas Mahasiswa Di Kota Pendidikan

Mobilitas menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa Indonesia, terutama mereka yang menempuh studi di kota-kota besar. Perjalanan dari kos ke kampus, dari kampus ke tempat kerja paruh waktu, hingga berpindah ke ruang-ruang sosial menjadi rutinitas harian yang membentuk pengalaman mahasiswa secara fisik dan mental.

Bagi sebagian besar mahasiswa, sepeda motor adalah alat transportasi utama. Motor dianggap paling fleksibel, hemat waktu, dan relatif terjangkau. Mahasiswa dapat menembus kemacetan, menyesuaikan jadwal sendiri, dan menjangkau tempat-tempat yang sulit diakses transportasi umum. Namun, di balik kepraktisan itu, ada risiko keselamatan dan biaya perawatan yang sering diabaikan.

Mahasiswa yang tinggal di kota dengan transportasi publik memadai menghadapi dinamika berbeda. KRL, bus kota, dan transportasi berbasis aplikasi menjadi bagian dari keseharian. Pengalaman berdesakan di jam sibuk, menunggu keterlambatan, atau berjalan kaki cukup jauh dari halte menjadi cerita umum yang membentuk ketahanan dan kesabaran mahasiswa.

Mobilitas juga berkaitan dengan pilihan tempat tinggal. Mahasiswa yang kos dekat kampus memiliki keuntungan waktu dan energi, tetapi sering harus membayar lebih mahal. Sebaliknya, kos yang lebih jauh menawarkan harga terjangkau, namun menuntut waktu tempuh lebih lama dan tenaga ekstra. Pilihan ini mencerminkan kompromi antara ekonomi dan kualitas hidup.

Menariknya, perjalanan harian sering menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa. Waktu di jalan dimanfaatkan untuk mendengarkan musik, podcast, atau sekadar merenung. Di sela-sela kepadatan aktivitas akademik, mobilitas menjadi jeda yang membantu mahasiswa memproses tekanan hidup kampus.

Namun, mobilitas yang melelahkan juga berdampak pada kesehatan fisik dan mental. Mahasiswa yang harus menempuh perjalanan panjang cenderung lebih cepat lelah dan rentan stres. Ketika hujan, macet, atau transportasi bermasalah, emosi mudah terpancing dan produktivitas menurun.

Isu keselamatan juga menjadi perhatian. Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan mahasiswa bukan hal langka. Kurangnya kesadaran berkendara aman, kelelahan, dan tekanan waktu sering menjadi faktor. Sayangnya, edukasi keselamatan berkendara belum menjadi prioritas dalam kehidupan kampus.

Di sisi lain, muncul gaya hidup berjalan kaki dan bersepeda di kalangan mahasiswa tertentu. Selain hemat biaya, pilihan ini dipandang lebih sehat dan ramah lingkungan. Beberapa kampus mulai mendukung dengan fasilitas pedestrian dan jalur sepeda, meski belum merata.

Mobilitas mahasiswa mencerminkan kondisi kota dan kebijakan publik. Ketika transportasi ramah mahasiswa tersedia, kualitas hidup dan fokus belajar meningkat. Sebaliknya, sistem transportasi yang tidak inklusif membuat mahasiswa harus beradaptasi sendiri dengan segala keterbatasan.

Pada akhirnya, perjalanan mahasiswa bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi bagian dari proses bertahan dan tumbuh. Di balik motor yang diparkir, kartu transportasi, dan langkah kaki yang lelah, tersimpan cerita perjuangan mahasiswa menjalani hari demi hari di kota pendidikan.


Tryout.id: Solusi Pasti Lulus Ujian, Tes Kerja, Dan Masuk Kuliah Banner Bersponsor

Suka

Tentang Penulis


Faturahman

Faturahman

Guest - Universitas Terbuka

Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.

Tulis Komentar


0 / 1000

Lagi Tranding


Rekomendasi Lainnya