Mahasiswa Dan Pola Tidur: Begadang Sebagai Kebiasaan Atau Masalah Sistemik?


Faturahman
Faturahman
Mahasiswa Dan Pola Tidur: Begadang Sebagai Kebiasaan Atau Masalah Sistemik?
Mahasiswa Dan Pola Tidur: Begadang Sebagai Kebiasaan Atau Masalah Sistemik?

Tidur sering menjadi aspek paling terabaikan dalam kehidupan mahasiswa. Di tengah jadwal kuliah, tugas menumpuk, organisasi, pekerjaan sampingan, dan kehidupan sosial, waktu tidur kerap dikorbankan. Begadang bahkan dianggap sebagai bagian normal dari kehidupan kampus, seolah menjadi simbol perjuangan akademik.

Bagi banyak mahasiswa Indonesia, pola tidur tidak teratur dimulai sejak awal perkuliahan. Tugas dengan tenggat waktu berdekatan, presentasi pagi hari, dan kebiasaan menunda membuat malam menjadi waktu utama untuk bekerja. Istilah “SKS” atau sistem kebut semalam masih hidup dan diwariskan lintas generasi mahasiswa.

Namun, begadang tidak selalu disebabkan oleh tuntutan akademik. Media sosial, hiburan digital, dan kebiasaan scrolling tanpa sadar juga menyumbang rusaknya pola tidur. Mahasiswa sering berniat tidur lebih awal, tetapi berakhir terjaga hingga dini hari karena distraksi digital yang sulit dikendalikan.

Mahasiswa yang tinggal di kos menghadapi tantangan tambahan. Lingkungan yang bebas tanpa pengawasan membuat jam tidur sepenuhnya bergantung pada disiplin pribadi. Tidak adanya rutinitas yang jelas sering membuat mahasiswa tidur larut dan bangun tidak konsisten, terutama ketika tidak ada kelas pagi.

Dampak kurang tidur perlahan terasa. Konsentrasi menurun, emosi lebih mudah tidak stabil, dan daya tahan tubuh melemah. Banyak mahasiswa mengeluhkan sulit fokus di kelas, mengantuk saat dosen menjelaskan, atau merasa lelah meskipun aktivitas tidak terlalu berat. Sayangnya, kondisi ini sering dianggap wajar.

Pola tidur juga berkaitan erat dengan kesehatan mental. Kurang tidur dapat memperburuk stres, kecemasan, dan perasaan tertekan. Mahasiswa yang terus-menerus begadang cenderung lebih mudah merasa kewalahan. Namun, hubungan ini sering tidak disadari karena kurangnya edukasi tentang pentingnya tidur.

Budaya kampus turut membentuk persepsi mahasiswa terhadap tidur. Lingkungan yang memuja produktivitas berlebihan sering menempatkan tidur sebagai kemewahan, bukan kebutuhan. Mahasiswa yang tidur cukup kadang dianggap kurang berjuang, sementara mereka yang begadang dipuji sebagai pekerja keras.

Di sisi lain, mulai muncul kesadaran baru tentang pentingnya tidur. Sebagian mahasiswa mulai menjaga jam istirahat, mengatur jadwal, dan memahami bahwa tubuh yang lelah akan berdampak pada kualitas belajar. Kesadaran ini sering muncul setelah mahasiswa mengalami kelelahan ekstrem atau penurunan performa akademik.

Peran institusi pendidikan juga penting. Jadwal kuliah yang lebih manusiawi, distribusi tugas yang proporsional, dan edukasi kesehatan dapat membantu mahasiswa membangun pola tidur yang lebih sehat. Tidur bukan masalah individu semata, tetapi juga bagian dari sistem akademik.

Pada akhirnya, tidur bukan musuh produktivitas, melainkan fondasinya. Mahasiswa perlu belajar bahwa menjaga pola tidur adalah bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri. Di tengah tuntutan perkuliahan, tidur cukup bukan tanda kemalasan, tetapi strategi bertahan agar tetap sehat, fokus, dan berkelanjutan.


Tryout.id: Solusi Pasti Lulus Ujian, Tes Kerja, Dan Masuk Kuliah Banner Bersponsor

Tentang Penulis


Faturahman

Faturahman

Guest - Universitas Terbuka

Pelajar dan content creator yang suka berbagi edukasi, motivasi, dan perjalanan hidup.

Lagi Tranding


Rekomendasi Lainnya